Dermaga Senja


Ku ingat kita di dermaga senja itu

27 Mei kala kita mengawali pelayaran panjang

Kapal yang berbeda menjelajah samudra satu dunia

Perpisahan yang indah di bawah mega merah

Aku melihat senyuman di wajahmu

Pengharapan baru

Lalu nanti

Tiga tahun lagi saat dermaga lain menyambutku pulang

Akankah kita berjumpa  di sana?

Semoga cita-cita kau raih

Semoga cinta kau dapat kembali

Semoga bahagia, selalu

Ingin ku dengar dari hatimu pada hari itu

Satu kata bermakna harapan

Karena kau lihat ketakutan akan hari esok

Dalam tatapan yang ku berikan hanya untukmu

Kau pun tersenyum

Lalu kau bilang semua akan baik-baik saja

Selapis es tipis membekukanku sekali lagi

Mengulang sebuah lagu lama, kali ini tanpa takut terluka

Mimpi-mimpi yang tertinggal di dalam hati

Beterbangan ke langit yang tinggi

Dan tangan yang pernah ku gapai mulai menjauh

Tapi kau tersenyum

Lalu kau bilang “aku di sini”

Semua baik-baik saja

Kini kita melangkah di jalanan yang berbeda

Masih ingin ku dengar satu kata itu dari hatimu

Tersenyum dan tetap tersenyum

Dalam doaku, semoga semua baik-baik saja

Senin, 14 Juli 2014 | bersamarintikhujan

Akhirnya, kartu biru kuraih! Yang kucita-citakan untuk hadiah 17 tahunku telah ku dapat, ini Ramadhan yang penuh berkah, aku percaya. 

Selanjutnya 12 September nanti, yang kedua. 

Jika dia jodohku, dekatkanlah

Jika bukan, jodohkanlah

Orang-orang datang dan pergi,

Bersimpangan, berlalu lalang di jalananku

Sesudahnya terlupakan, melupakanku

Kali ini tidak, semoga

Bintang-bintang pun bermunculan

Aku jadi mengerti, mereka akan jauh lebih berkilau setelah aku membuka mata setelah terpejam 

jika aku harus melepaskan, baiklah

aku mau terbang bebas!

Detik serasa cepat sekali berlalu

Tapi mengapa hari tak kunjung berganti?

Semangat berbagi

Kunang-kunang yang terbang bersinar

Memberikan secercah harapan dalam kegelapan

Ini tentang negeri tempat aku dilahirkan, tempat aku berdiri kini.

Yang dulunya gemah ripah loh jinawi.

Ya, ini negeri yang indah bukan? Indah alamnya, kaya tanahnya, kaya lautnya. Pun bila demikian kenapa kita masih membeli dari orang lain? Apa gunanya abang-kakakku para Insinyur, para Ekonom, para ahli di bidangnya? 

Majapahit, Sriwijaya, kejayaannya hampir-hampir tak terdengar lagi, mereka hanya menjadi sejarah yang bisa jadi terlupakan, apa negeri ini juga?

Tidak, aku tak ingin.

Presidenku dipilih langsung oleh rakyat. Pun demikian yang lalu-lalu yang katanya memperbaiki negeri, memperbaiki ekonomi, ya memang berdasarkan data pertumbuhan ekonomi negeriku mencuat. Tapi ekonomi yang mana? Yang kaya makin kaya, yang miskin? 

9 Juli nanti, Pilpres (lagi). 

Baginda Presiden, rakyat memilihmu, rakyat memihakmu,izinkan kami berbahagia karena kau juga ada di pihak kami. 

Jaya jaya wijayanti.